Jumat, 26 Maret 2010

...

Aku memiliki duri
Di balik jubah berbulu nan lembut
Aku memiliki bisa
Di balik cawan madu musim dingin
Siap mencabik rupa angkuhmu biadab
Hendak menetaskan ketewasanmu dengan racun pembunuhku
Kau dalam kesekaratan umpatku
Mendiang katana nyala tanaka hunus hujamkan mampus
Kau bedebah
Mati kau dalam gulita rahim kejamku

Rabu, 24 Maret 2010

Pusara Sunyi

Pembedahan rasa
Jiwa
Menyatukan sunyi
Alam
Ruh
Pembatinan
Terdapati segelas anggur pengetahuan
Dari serangkang persada
Jingga
Biru
Hitam
Kembali
Berpusara

Ruh

Ruh ku setengah jasad
Menziarahi kota mati
Di rindang belantara jiwa sunyi

Selasa, 23 Maret 2010

Pecah Retina Jingga Timur

Sedari gaun jingga berenda perak mengalung persada
Telah terpecah gemintang dimamah terang
Hingga samar pun tak tergambar
Lima sudut yang terbentang di atap jagad
Adalah sebagai aula instrumen pijar rasa
Terurai oleh prahara badai keelokan
Dimana ombak memecah keangkuhan hening dipagut laut
Berupa sebab terpecahnya retina jingga timur menyusur hingga mega barat menjinguk ruang rangkum

Bukan Apa-apa

Apa yg ndak ku ketik???
Seperti waras sudah tak di detak nadi
ku ikuti saja apa yg ndak diutarakan jemari
bersama iringan tetabuh gendang degup jantung
gerak tari mucai
arti isyarat tapak tinta tak didapat

Denting Dawai Harpa Jiwa Pujan

Telah tereguk pengetahuan dari gerbang bidadari dan malaikat di ambang pintu jingga timur jagad

Dan sepasang jiwa telah mengepak sayap ruh di angkasa rasa, menyatukan sukma di persemayaman jiwa antara dua raga satu hati

Rasa jiwa berpagut

Keterikatan jiwa sepasang menjelajah jagad imaji sebagai persinggahan jiwa membelah dunia makna bersama di antara serumpun mawar yang adalah wadah kerahasian menyembunyikan hati mencinta!

Maka simfoni dari petikan harpa eros egape yang menterjemah instrumen hati dari dawai harpa telah menggetarkan negeri persinggahan jiwa di antara keterpisahan raga

Berdawai jiwaku menapaki jejak bait-bait mistik pertemuan

Melahirkan keterpakuan hening di pusara pengakuan rasa kecintaan tentang keterpisahan raga dari jiwa-jiwa pecinta

Selalu terangkai nada pertautan pada perjamuan sepasang jiwa di setiap desah kesunyian pujan melalui syair pertalian kalbu

Gema kesyahduan yang tercipta dari lentik jemari memetik harpa, telah mengijabahi permohonan ruh di altar musyafir

Pada persuntingan bermahar syair kecintaan di keheningan irama jiwa penyambutan, bersanding di pelaminan jingga jagad

Dikesadaran dari rasa mencintai telah membawa keelokan senjana sebagai altar kesaksian cinta sepasang menjadi pengantin padang jiwa

Dalam kebersamaan mencipta kemesraan melalui urat-urat syair bintang kesunyian

Tanpa kepemilikan syair bait sunyi renjana sukma

Menggugurkan kecintaan atas syair pertapa kelana sebagai pengantin kerahasiaan

Meluruhkan jiwa sunyi di ranjang prahara angsa putih tak terjamah raga


04 Okt '09
Putri Pujan

Ketiadaan Ada Dirasa

Semilir angin semusim mengembarai kaki bukit rindang belantara

Mengecup dedaun ranting sepi dari rindu yang memaja dipengembaraan rasa

Melafadzkan kasidah-kasidah kerinduan akan perjamuan di pucuk temaram

Dipersetubuhan sunyi

Di ranjang lamfa putih pembatinan

Pedupaan jiwa

Antara ada ketiadaan rasa

Adalah merasa dalam ketiadaan ada

Senin, 22 Maret 2010

Rumit

Bagaimana aku menjabarkan ayat-ayat cinta yg termaktub pd lembaran kitab rasa, ini terlalu rumit, tak akan bisa pecah sandi tanpa kunci, tak akan bisa melantun quena tanpa hembus udara paru-paru manusia, ah rumitnya, bagai terhimpit ekor rusa di batang pohon tumbang, apa mesti ku biarkan, hingga lumus hingga akhir peradaban???

Renjana

Dinding kayu
Mengelupas di sudut hening
Hembus angin semusim
Mengecup kupasan usang
Membawa warta renjana
Dari pujan di pertapaan sunyi
Dengan senandung bintang
Mahija aksara atap jagad
Pada rasi-rasi
Membait pijar Lakhsmi
Dari rampai melati
membingkai kupasan hening
Cenderamata angin
Sebejana renjana untuk sang raja



(pemula, harap maklum)

....

Setelah padu isak berisau di padang serumpun mawar hati
Dengar!
Pasang benar piringan radar
Penangkap getar gelombang suara
Lihat!
Aksara ejaan jiwa
Dari balik tabir imaji
Isak berisau mencipta melodi
Dimana mistik menarik balik
Lepasnya ruh dari wadah petapa
Menjelajah jagad makna
Yang pada setiap nada
Menterjemah prasasti rasa
Yang terpahat di stupa-stupa jiwa
Maka berpulanglah ruh pada wadah persemayaman
Dari pengembaraan menyisir ngarai
Berteman serunai
Yang mengiring instrumen isak berisau jasad

Tembang Ilalang

Ketika sampai padaku
Seuntai rampai ilalang
Dengan bijak bersenandung petikan harpa
Melantunkan bait-bait senjana
Instrumen hati bernada lirih
Merasuk pada sunyi ku
Dawai yang merdu
Hingga selaksa bintang di pangku

Pengantin Kesunyian Batin

Sayang
Ini aku
Menggubah pesona jagad rasa
Melalui bait-bait syair bintang sagita
Memainkan melodi padang jiwa
Merentangkan sayap imaji sunyi
Hingga terlepas rantai pembatas ruang dan waktu
Digunting jemari maya yang berpagut
Maka ruh ku dan ruh mu
Mengikat senar pada hati
Kemudian dipetik oleh ishtar
Melahirkan senandung percintaan
Dari rahim perjamuan tersuguh anggur musim semi
Tereguk manisnya menjamah lisan
Merangkak darah di urat-urat syaraf
Tertato
Terpahat
Jiwa
Rasa
Ruh
Imaji
Menari
Lonceng kuil cinta kita memanggil persuntingan sukma
Menjadi pengantin kesunyian batin
Aku dan mu dalam ruh yang utuh

Cahaya Kutub II

Ku sesap aroma malam
Bagai mistik menelan sesajen pedupaan
Ruh
Rasa
Sunyi
Legam
Redam
Pembatinan
Dimana rindang belantara sepertiga malam
Memperdengarkan erangan silam
Saat musim gugur di kemarau jahannam
Terjambangi cahaya kutub
Memikat retina hati
Diperayuan munajat pangkuan elegi keheningan
Pada pengembaraan di jagag kosmos

Cahaya Kutub I

Di hampar musim dingin
Di sela ranting-ranting sunyi
Aku melihatmu
Dalam kemilau kehijauan
Dikekagumanku akan anggunmu
Kau menjerat
Menyeret batas kesadaran
Mencekik waras
Tewas
Lantak
Di kelambu cahaya kutub
Halimun senyap tersingkap
Oleh kepak kupu ku

Kembang Ladang Jiwa

Rindu adalah kembang di ladang jiwa kecintaan
Yang rekah saat dimana perjamuan tak juga berhidang madu
Tercicipi duri perdu
di antara ribuan mawar menyerumpun di pelataran hati

Perindu Ulung

Usang jasad mandam dalam sekarat
Terkunci bunyi pada gembok sunyi mengepiting gerbang suara
Seratap tiap pasang kornea menjelajahi tiap sendi raga
Pembaringan selunjur tak geming di sudut hening
Sendu rindu
Menguyu pilu
Hadang pujaan tak kunjung datang
Kereta kencana usung merona
Gaun putih jahitan tangan kekasih terkenakan di pelaminan merah
Ahh rindu
Permata tambang retina bergalur di pualam langsat pucat
Mendekap hangat pada sekarat jasad si perindu lahat
Untaian ayat-ayat maha daya albanna jiwa
Memanggil kekasih berjubah keagungan penjemput di keabadian
Sungguh rindu meruah tak tampung sudah
Kapan kau datang
Jemput aku pulang
Aku perindu ulung
Menggulung samudera renjana
Telah ku ganti lautan airmata hujan pucat
Aku rindu
Merindu mu
Mati!!!


Bintang Andrya, 29 Sept '09

Harmonika Asa Bintang

Dinamika irama kelangkaan pijar bintang
Bait yang terangkai berima terserak linglung
Dimana harmonika puisi klasik tak berjamah makna
Bintang gugur di kaki lembah belantara mandam
Di wadah persinggahan keletihan rangkai
Bintang bersolek pada telaga kedamaian
Yang padanya tertatah sandi pengetahuan rasa
Berbingkai teratai putih disepuh perak si rupawan malam
Dipenghujung kesadaran bintang
Tersenandungkan bait malam memikat jiwa-jiwa retak
Bintang meniti duri di semak belantara mengusung asa
Dipersetubuhan sunyi
Muara jiwa bintang menguncup mawar
Jingga timur jagad mengecup kuncup
Melahirkan cita di atas serpih-serpih airmata hujan pucat semalam

Bait Gandum

Bagai ladang engkau buah yg ku panen

Pada musim panas ku semai benih dari bibit huruf-huruf unggul

Terkemas dalam goni penuh bait gandum

Engkau adalah kamus perindu

Padamu terdapat terjemah

Dari tiap hembus nafas pecinta

Memenuhi udara jagad rasa

Engkau adalah musik

Setiap melodi yang kau mainkan

Irama dari petikan senar hati

Melantunkan bait-bait Laila Majnun

Minggu, 21 Maret 2010

Rindu Araya

berlomba nyala bersama kunang

memaksa batas kehampaan terawangi gelap purnama raya

lantunkan resah, gundah, pun doa tentang mahkota mata jiwa

di telaga bening ku bercermin

di antara bintang sepertiga malam

tersemat kidung mustajab rerayu rindu

meratap, mengharap


dimana senyap halimun lelap?

Anggun menjeda akar di pucuk ranting temaram bulan

meronta,

atasnya resah ada


resah remang di ujung sayap tarian kunang

sejajar perih

di indahnya gambaran awan

dan bunga

Arifa

Terluruh sudah tirai temaram di keheningan
Membawa rengkot jasad pada ruang rehat penyapu penat
Selunjur raga di atas dipan kayu letih
Melantunkan dendang lagu keletihan laku
Terawang lelang ruang menyeret pesona imaji malam
Hingga terpetik dalam sekejap petak
Engkau sunyi ku
Terurai dalam biduk rerindu arifa