Minggu, 19 September 2010

Tumbal Prasasti

Apa hendak dipelajari dari ku

Yang seorang fakir di belantara rimba purba kata

Hanya tetes-tetes dari nadi yang terkoyak oleh sabetan kuku-kuku belukar yang meminta tumbal prasasti kaca

Tumbal Prasasti

Apa hendak dipelajari dari ku

Yang seorang fakir di belantara rimba purba kata

Hanya tetes-tetes dari nadi yang terkoyak oleh sabetan kuku-kuku belukar yang meminta tumbal prasasti kaca

Jiwa Rana

Kanda
Ini adalah lembaran terakhir dinda yang terkoyak

Tahukah dikau kanda
Rinjani kini menghalimun misteri perih
Di ujung bulan separuh itu
Dinda duduk bertopak dagu

Kanda
Adakah benang yang dikau rajut
Guna rekatkan koyakkan jiwa rana ku???
Sedang jarum lalu masih tertusuk di ulu

Ahh kanda

Dinda tunggu asy-syifamu

Rabu, 25 Agustus 2010

Bening

saat di mana telah pergi angin mengembara sahara

tinggallah keheningan tanpa belaian sutra tak berupa

ketika telah sampai waktu berpulang ke tanah kelahiran

menjejaki rerumputan yang mengangguk menyambut kedatangan

rekatkan petak retina mu

rentang indramu

andai dekap utuh semesta

ini lah ketenangan

saat tak ada lagi kebisingan

ini lah hening

dalam jiwa-jiwa yang bening

Sabtu, 21 Agustus 2010

Sampan Renjana

menggunung tempa gundah ku paja

pada keheningan yang menjejaki hamparan dedaun kering

melodi klasik kaki langit mencipta senandung tarian kunang-kunang

bintang hilang dimamah awan
pada pucuk temaram

tik tak

sepertiga kepak sayap malaikat

muara telaga jiwa disinggah sampan renjana

didayung mahabbah jati

anggur mengambangkan purnama rupa mu

Tuhan telah menjadikan musim ini begitu indah

dengan rampai melati menghijab wujudmu di serindu malam persandingan

Kamis, 22 Juli 2010

Janur mu

Menjejaki masa janur mu mengundang dalam lambaian purnama dua belas

Ku sapu ceceran darah nadi simpul rupa membusur madu

Empat sudut sapu tangan sunyi mencipta bercak enggan ku cuci

Ini kidung pesakitan

Dinamika nada cabikan cinta

Gugur kembang di jambangan bintang

Serak mahkota hilang harum setaman

Kamis, 15 Juli 2010

Sunyi

Tahukah engkau

Apa itu sunyi

Pernahkah engkau rasai nikmatnya sendiri telanjang pandang

Nikmat bercinta pada keindahan

Inilah sunyi

Padang jiwa pecinta

Keasyikan memuja kesempurnaan

Inilah sunyi

Percintaan di sepertiga malam

Selasa, 13 Juli 2010

Kanvas Maya

Di kanvas maya ini
Ku tatah aksara jiwa serabut
Menjadikannya
Prasasti amatir sastra
Entah
Berapa banyak yang mengeja
Dan
Berapa banyak yang acuh mengicuh
Biarlah
Tetap ku tatah saja
Dengan itu jiwaku purnama

Rabu, 26 Mei 2010

Padang Jiwa Selepas Perhelatan

pada pucuk-pucuk para memanggil angin semusim dari pengembaraan meresapi keberadaan alam

mencuba bertahan di antara putaran rasa tak goyang dari prahara

membawa jiwa sepasang melintasi badai gurun jiwa dan mengisi sela-sela jemari hati meniti pernikahan tanpa restu dalam keterasingan sunyi

telah membuka gerbang kesetiaan bagi sesunyi hati menggenggam rasa bersama atas cinta dari selendang bidadari mengikat pinggang jiwa sepasang

mengepak kembarai padang jiwa berkuncup mawar rekah

mencipta bait-bait mistis dalam penziarahan melodi hati memetik harpa menyenandungkan kecintaan

sekuncup mawar merampai menebar nada di lapak padang perhelatan atas denting dawai harpa yang bersenandung di pinangan sepasang jiwa memainkan simfoni maha daya cinta

setiap nada yang tercipta telah menterjemah rasa kecintaan di padang jiwa kesunyian diselubung oleh rimbun mawar setaman harum pinangan embun

maka selepas embun membuat jejak kuasa atas fajar dimana pertemuan dirangkai dalam sabda syair meminang bintang telah membuat kiasan serindu

dan serindu yang terjelaga membawa bintang pada bait-bait mistik di gerbang fajar pemaknaan terekah oleh kecintaan sepasang di taman serumpun mawar menyatukan jiwa

hingga terutuskan malaikat menebar rahmat di aula pengetahuan jingga timur selunjur barat

pemenuhan janji Dinda Puteri Pujan atas Kanda Syaair, telah rampung


Sepasang jiwa dalam keterasingan, Okt 2009

Syaair Bintan9_Sa9ita

ketika bulan pudar dalam kesenandungan alam mistik
dimana bintang menabur cinta pada kecupan pertama setelah seribu hari menunggu masa yang dinanti

rekah kembang jiwa tersiram air telaga kautsar dengan perantara hurun 'ain yang menyenandungkan bait syair merasuk sukma

maka serangkaian bintang membuat bait-bait sagita yang mengalun indah menciptakan tarian kedewasaan rasa yang merindu dalam imaji kekasih

dalam imaji kerinduan di pucuk malam
dimana bintang menari diiringi instrumen alam bersama lantunan sadjak yang dirangkai Batara Kamajaya meminang Puteri Pujan yang berhias yaqut dan marjan

suatu keabadian malam atas kesempurnaan alam
menciptakan bintang termaknai dalam coretan pelukisan jiwa-jiwa yang mencinta

pelukisan kerinduan di kanvas maya ciptakan romantika cinta yang kini bertahta megah di wilwatika bersama kidung cinta yang membuai kalbu merindumu

berpasanglah jiwa meminang ruh memasuki raga atas kekuatan firman yang terucap mendalami sukma atas romansa cinta Qais dan Laila

atas nama bintang merindu pada lantun syair nan merdu
sabda cinta menterjemah pusara kerahasiaan cinta menjadi pengantin jiwa

dan atas nama bintang sagitarius membuka pintu kesenandungan dalam jiwa yang menjadikan sepasang pengantin bulan bermadu di ranjang angsa bertilam emas
berpagut dalam hangat kecintaan dua insan dimabuk anggur secawan rindu



sepasang jiwa dalam keterasingan, 18 Juli 2009

Senin, 24 Mei 2010

Senandung Bintang

Senandung bintang
cakupan melodi hati
denting dawai harpa jiwa
melarakkan mahkota kembang sunyi
pada kecupan pertama angin musyafir
melelapkan lingkar merah semesta
hingga menggugur mahkota mawar hitam jagad
menyempurnakan aksara bintang
lingkar perak sendu di ranting mawar bergelayut
sedang dedaun sunyi berdansa dalam imaji metafisi

Minggu, 23 Mei 2010

Terajam Bayang

serupa daun cemara ku

tergores mencipta cacat

tetapi tiada longsor tambang permata retina ulah getarnya

meski nyeri sendi nadi terajam bayang

temaram legam dipandang

tetapi setaman bintang sunyi

bagai musim semi pengataman

Bintang Sunyi

kembali pada wujud bintang sunyi

merangkai lamfa putih di atas lapas jagad imaji

memahkotai aksara keheningan

menziarahi aula pengetahuan yang dipenuhi jejaring ilusi sunyi

Denting Kelana Permaisuri Lazuardy

mandam pada sudut ruang rangkum

menatap nampak mu di hadap petak kornea jambangan ruh

getar jiwa membahana nada

denting-denting setapak kelana

menghamparkan lapak perjamuan rasa

sebagai saksi penobatan jingga

sebagai mahkota sanjana

permaisuri lazuardy pengantin fajar

Sabtu, 22 Mei 2010

Gurat Tengah Malam

Urat kayu seakan mengelupas pada tembok pojok kamar
Keheningan Mei 2009
Bintang kembali muncul di kaki lembah
Malam pecah bekunya
Ceritamu belum bernama
Sendi bias matamu meluas biru
Bidadari mandi di telagamu
Bulan di sela ranting yg memperdalam hening
Diriku berpecah menghadap muara
Antara bintang dan langit
Antara bumi dan dedaunan
Sekalipun sekitar membunga
Badai tak pasti sampai sore
Pada jerit terakhir terbelah bumi
Dan darahmu,darahku mengembang di kelopak musim semi
Bintang berkalung jingga
Melengking ke utara menabur sepi
Rangkai rindu dari sejuta jingga persada
sedu yg ku rasa di pagi telah membuka cahaya
Angan-angan lari menampar kering
Ku harap kau memelukku kali ini
Bukan besok atau kemarin...!!!


"by : Satya Marcapada"

Rabu, 19 Mei 2010

Sunting Sunyi

Sekalian mandam pd rotasi otak mengitari syaraf2 tegang ku..
Menitik tumpu pd sendu lalu bertopang dagu...
Gaduh nian jiwa gema dinding sukma retak...
Pd setumpuk risau merimbun bisu hati...
Sebukit gagu merimba belantara jantung meraung detak...
Khaluad ku pd sendu melayu terusik...
Ku sunting sunyi pd gaduh merubuh pilar tegar...
Ku pinang senyap utk memikat pertapa dlm keheningan meraja...
Biar mandam menjelaga jagad asma...
Biar kidung sunyi melantun tak berirama bunyi...

Selasa, 18 Mei 2010

Cadar Musim

Ketika cadar musim tersibak di hadap rupa tungku beku

Selendang pelangi membalut sunyi

Sehangat badan ranting yang menyemat emas jagad

Kembali angin musyafir menapak mencipta jejak senyap lembah prahara jiwa

bersenandung buah kayu sanubari

memainkan desah nada musim semi

tertanai cawan serindu bintang memutik not-not sunyi di lembah angsana

Rabu, 12 Mei 2010

Kuncup Mawar

Telah berkuncup
Benih yang disemai di ladang jiwa
Airmata menghujan menambah kesuburan
Musim panen di taman mawar
Sekuncup-kuncup rekah
Harum
Menarik pencium
Pandang memandang takjub
Hanya mengagumi
Jangan satu pun ulur lentik memetik
Ranum
Belum masa memadu malam
Berjamu ranjang
Berserak taburan kelopak harum


Arifa, September 2009

Persembahan untuk Kesunyian

mengambang dedaun resah di ranting senyap pemikat jiwa-jiwa pecinta
terangkai jemari angin memagut rasa dalam desah terkecupi resah
memperdengarkan alunan mistik simfoni dari instrumen jiwa melahirkan keutuhan daya ruh pengembara jagad

Jejak-Jejak Sunyi

belantara ini merindang penuh terjelaga ilalang
pada tiap-tiap helainya memanggil asma angin musyafir
setengah daya sisa pengelana padang jiwa
bersimpuh di lapak hijau menenang rasa
ruh
sukma
pada pusaran kosmo
meniup senyap melalui kisi-kisi ruang rehat
setapak demi setapak
jejak-jejak sunyi purba dipaja
hingga lahir kedewasaan pemaknaan kehadiran
di antara kuncup-kuncup syariat jasad
membangun pilar-pilar bening
dari hening senyap bintang berkhaluad

Belum ku Petik Disesap Embun

Aku mengintaimu dari balik tilai kekaguman
Rupamu purnama turun membingkai

Matamu telaga mandi bidadari
Bibirmu tercicipi pay pisang berpoles madu
Engkau, yang sekali pandang langsung menikam
Dan sekarang
Aku terkapar di dipan lapuk yang berdendang renta
Dalam sekarat rindu mencinta juwita
Aku melihatmu sekali lagi
Tapi
Ahhh
Tertikam kembali
Bagai taman mawar berkuncup rekah
Belum ku petik disesap embun saat halimun menudung pandang
Kini hanya dapat menikmati rekam silam retina
Anggunmu dipersolekan fajar

Arifa (edit)

rumusan rusuk adam dari sepasang memadu malam di ranjang kecintaan
membangun mahligai persolekan padang jiwa serumpun
terpayungi tauhid pada kelahiran benih mawar berkuncup
membawa serampai pioni ketegaran hawa peradaban mesin
dimana terbingkai persinggahan raga oleh lingkup rentang 17 sayap ketaatan menyelubung lindung
mematah batang kealfaan manunggal raga
terbekali bintang dengan sinar tunggal terang kearifan

Melarak Sunyi

Memutik daya yang melambak di lapak bengkang kewarasan wujud

menyemat pada sela ranting mandam
melarakkan sunyi dikehadiran hawa pertapa

merangkai kenampakkan serupa daun cemara
segar dicumbu pedupaan metafisi

melahirkan serbuk khayali
meningkahi tangga imaji atas mistikus kehadiran jiwa kekasih

Selasa, 11 Mei 2010

Mawar Hitam (Malam)

rekah kuncup mawar hitam bermahkota permata tata surya
meleburkan tarian jingga melayar di jambangan samudera jagad
jejaring rasi-rasi mencipta ilusi atas imaji metafisi
dialegtika panca retina rasa, ruang dan waktu rerindu seiring daya akar kalbu
membatu serupa daun cemara ditatah sebuah nama
maka dalam sunyi atas imaji keharuman mawar hitam alam
meningkahi pemaknaan dari kepak sayap 17 malaikat
tak kuasa melepas rahim retina melahirkan riak anak murni terbasuhi bercak-bercak batin

Senggama Sunyi

dalam hening
menjejaki rimba kegelapan
hanya berpenerang gemintang
sayup
merasuk piringan radar melantang
lantunan
sabda-sabda cinta
menenang
bak mutiara
bertabur kilau di lisan
membawa ruh
mengembarai jagad kosmos
hanya ada aku dan sunyi
bersenggama
di ruang senyap yang memikat
mencipta birahi tingkat tinggi
pada setubuh batin ku dan Cinta ku
di atas tilam suci
yg tergelar sebagai lapak percintaan
disaksikan reranting hening
dedaun risau
berhakim malam
aku dan Nya bercinta
bersama lingkup sayap malaikat menabur rahmat

Terbunuh Aksara Prasasti Kaca

Ejaan dalam prasasti kaca itu
bagai sembilu
runcing menusuk hening
sekerat merah tua memucat nanah
ini hati ku
pucat mati dalam sunyi
aksaraku kerontang
cadar musim tersingkap kemarau gurun tempias jiwa
ini raga ku
lumpuh dalam sekejap mengeja tatah katanya
ini sukma jiwa pertapa
terbunuh gempita kecupan senja di padang ilalang menziarahi padang jiwa kecintaan renjana :)


06 Mei 2010

Senin, 03 Mei 2010

Pinangan Jiwa

berpijak di lapak savana
adalah taman perjamuan jiwa-jiwa
berpayung segumpal kapas jagad
ku gelar kanvas aksara padang jiwa
beralas hijau ilalang lajang
inilah masa
lepas sukma meningkahi jagad makna
menggubah semesta jiwa
di atas lembaran aula pengetahuan rasa
menarikan tarian syair perindu sunyi
kidung kinanti bertalu gamelan syahdu
merinai dawai lentik pena menjejaki kanvas padang jiwa
mencipta setapak jejak bait bintang
menggugurkan dinamika aksara padang jiwa serumpun
pinangan jiwa dipengembaraan sukma

Jumat, 26 Maret 2010

...

Aku memiliki duri
Di balik jubah berbulu nan lembut
Aku memiliki bisa
Di balik cawan madu musim dingin
Siap mencabik rupa angkuhmu biadab
Hendak menetaskan ketewasanmu dengan racun pembunuhku
Kau dalam kesekaratan umpatku
Mendiang katana nyala tanaka hunus hujamkan mampus
Kau bedebah
Mati kau dalam gulita rahim kejamku

Rabu, 24 Maret 2010

Pusara Sunyi

Pembedahan rasa
Jiwa
Menyatukan sunyi
Alam
Ruh
Pembatinan
Terdapati segelas anggur pengetahuan
Dari serangkang persada
Jingga
Biru
Hitam
Kembali
Berpusara

Ruh

Ruh ku setengah jasad
Menziarahi kota mati
Di rindang belantara jiwa sunyi

Selasa, 23 Maret 2010

Pecah Retina Jingga Timur

Sedari gaun jingga berenda perak mengalung persada
Telah terpecah gemintang dimamah terang
Hingga samar pun tak tergambar
Lima sudut yang terbentang di atap jagad
Adalah sebagai aula instrumen pijar rasa
Terurai oleh prahara badai keelokan
Dimana ombak memecah keangkuhan hening dipagut laut
Berupa sebab terpecahnya retina jingga timur menyusur hingga mega barat menjinguk ruang rangkum

Bukan Apa-apa

Apa yg ndak ku ketik???
Seperti waras sudah tak di detak nadi
ku ikuti saja apa yg ndak diutarakan jemari
bersama iringan tetabuh gendang degup jantung
gerak tari mucai
arti isyarat tapak tinta tak didapat

Denting Dawai Harpa Jiwa Pujan

Telah tereguk pengetahuan dari gerbang bidadari dan malaikat di ambang pintu jingga timur jagad

Dan sepasang jiwa telah mengepak sayap ruh di angkasa rasa, menyatukan sukma di persemayaman jiwa antara dua raga satu hati

Rasa jiwa berpagut

Keterikatan jiwa sepasang menjelajah jagad imaji sebagai persinggahan jiwa membelah dunia makna bersama di antara serumpun mawar yang adalah wadah kerahasian menyembunyikan hati mencinta!

Maka simfoni dari petikan harpa eros egape yang menterjemah instrumen hati dari dawai harpa telah menggetarkan negeri persinggahan jiwa di antara keterpisahan raga

Berdawai jiwaku menapaki jejak bait-bait mistik pertemuan

Melahirkan keterpakuan hening di pusara pengakuan rasa kecintaan tentang keterpisahan raga dari jiwa-jiwa pecinta

Selalu terangkai nada pertautan pada perjamuan sepasang jiwa di setiap desah kesunyian pujan melalui syair pertalian kalbu

Gema kesyahduan yang tercipta dari lentik jemari memetik harpa, telah mengijabahi permohonan ruh di altar musyafir

Pada persuntingan bermahar syair kecintaan di keheningan irama jiwa penyambutan, bersanding di pelaminan jingga jagad

Dikesadaran dari rasa mencintai telah membawa keelokan senjana sebagai altar kesaksian cinta sepasang menjadi pengantin padang jiwa

Dalam kebersamaan mencipta kemesraan melalui urat-urat syair bintang kesunyian

Tanpa kepemilikan syair bait sunyi renjana sukma

Menggugurkan kecintaan atas syair pertapa kelana sebagai pengantin kerahasiaan

Meluruhkan jiwa sunyi di ranjang prahara angsa putih tak terjamah raga


04 Okt '09
Putri Pujan

Ketiadaan Ada Dirasa

Semilir angin semusim mengembarai kaki bukit rindang belantara

Mengecup dedaun ranting sepi dari rindu yang memaja dipengembaraan rasa

Melafadzkan kasidah-kasidah kerinduan akan perjamuan di pucuk temaram

Dipersetubuhan sunyi

Di ranjang lamfa putih pembatinan

Pedupaan jiwa

Antara ada ketiadaan rasa

Adalah merasa dalam ketiadaan ada

Senin, 22 Maret 2010

Rumit

Bagaimana aku menjabarkan ayat-ayat cinta yg termaktub pd lembaran kitab rasa, ini terlalu rumit, tak akan bisa pecah sandi tanpa kunci, tak akan bisa melantun quena tanpa hembus udara paru-paru manusia, ah rumitnya, bagai terhimpit ekor rusa di batang pohon tumbang, apa mesti ku biarkan, hingga lumus hingga akhir peradaban???

Renjana

Dinding kayu
Mengelupas di sudut hening
Hembus angin semusim
Mengecup kupasan usang
Membawa warta renjana
Dari pujan di pertapaan sunyi
Dengan senandung bintang
Mahija aksara atap jagad
Pada rasi-rasi
Membait pijar Lakhsmi
Dari rampai melati
membingkai kupasan hening
Cenderamata angin
Sebejana renjana untuk sang raja



(pemula, harap maklum)

....

Setelah padu isak berisau di padang serumpun mawar hati
Dengar!
Pasang benar piringan radar
Penangkap getar gelombang suara
Lihat!
Aksara ejaan jiwa
Dari balik tabir imaji
Isak berisau mencipta melodi
Dimana mistik menarik balik
Lepasnya ruh dari wadah petapa
Menjelajah jagad makna
Yang pada setiap nada
Menterjemah prasasti rasa
Yang terpahat di stupa-stupa jiwa
Maka berpulanglah ruh pada wadah persemayaman
Dari pengembaraan menyisir ngarai
Berteman serunai
Yang mengiring instrumen isak berisau jasad

Tembang Ilalang

Ketika sampai padaku
Seuntai rampai ilalang
Dengan bijak bersenandung petikan harpa
Melantunkan bait-bait senjana
Instrumen hati bernada lirih
Merasuk pada sunyi ku
Dawai yang merdu
Hingga selaksa bintang di pangku

Pengantin Kesunyian Batin

Sayang
Ini aku
Menggubah pesona jagad rasa
Melalui bait-bait syair bintang sagita
Memainkan melodi padang jiwa
Merentangkan sayap imaji sunyi
Hingga terlepas rantai pembatas ruang dan waktu
Digunting jemari maya yang berpagut
Maka ruh ku dan ruh mu
Mengikat senar pada hati
Kemudian dipetik oleh ishtar
Melahirkan senandung percintaan
Dari rahim perjamuan tersuguh anggur musim semi
Tereguk manisnya menjamah lisan
Merangkak darah di urat-urat syaraf
Tertato
Terpahat
Jiwa
Rasa
Ruh
Imaji
Menari
Lonceng kuil cinta kita memanggil persuntingan sukma
Menjadi pengantin kesunyian batin
Aku dan mu dalam ruh yang utuh

Cahaya Kutub II

Ku sesap aroma malam
Bagai mistik menelan sesajen pedupaan
Ruh
Rasa
Sunyi
Legam
Redam
Pembatinan
Dimana rindang belantara sepertiga malam
Memperdengarkan erangan silam
Saat musim gugur di kemarau jahannam
Terjambangi cahaya kutub
Memikat retina hati
Diperayuan munajat pangkuan elegi keheningan
Pada pengembaraan di jagag kosmos

Cahaya Kutub I

Di hampar musim dingin
Di sela ranting-ranting sunyi
Aku melihatmu
Dalam kemilau kehijauan
Dikekagumanku akan anggunmu
Kau menjerat
Menyeret batas kesadaran
Mencekik waras
Tewas
Lantak
Di kelambu cahaya kutub
Halimun senyap tersingkap
Oleh kepak kupu ku

Kembang Ladang Jiwa

Rindu adalah kembang di ladang jiwa kecintaan
Yang rekah saat dimana perjamuan tak juga berhidang madu
Tercicipi duri perdu
di antara ribuan mawar menyerumpun di pelataran hati

Perindu Ulung

Usang jasad mandam dalam sekarat
Terkunci bunyi pada gembok sunyi mengepiting gerbang suara
Seratap tiap pasang kornea menjelajahi tiap sendi raga
Pembaringan selunjur tak geming di sudut hening
Sendu rindu
Menguyu pilu
Hadang pujaan tak kunjung datang
Kereta kencana usung merona
Gaun putih jahitan tangan kekasih terkenakan di pelaminan merah
Ahh rindu
Permata tambang retina bergalur di pualam langsat pucat
Mendekap hangat pada sekarat jasad si perindu lahat
Untaian ayat-ayat maha daya albanna jiwa
Memanggil kekasih berjubah keagungan penjemput di keabadian
Sungguh rindu meruah tak tampung sudah
Kapan kau datang
Jemput aku pulang
Aku perindu ulung
Menggulung samudera renjana
Telah ku ganti lautan airmata hujan pucat
Aku rindu
Merindu mu
Mati!!!


Bintang Andrya, 29 Sept '09

Harmonika Asa Bintang

Dinamika irama kelangkaan pijar bintang
Bait yang terangkai berima terserak linglung
Dimana harmonika puisi klasik tak berjamah makna
Bintang gugur di kaki lembah belantara mandam
Di wadah persinggahan keletihan rangkai
Bintang bersolek pada telaga kedamaian
Yang padanya tertatah sandi pengetahuan rasa
Berbingkai teratai putih disepuh perak si rupawan malam
Dipenghujung kesadaran bintang
Tersenandungkan bait malam memikat jiwa-jiwa retak
Bintang meniti duri di semak belantara mengusung asa
Dipersetubuhan sunyi
Muara jiwa bintang menguncup mawar
Jingga timur jagad mengecup kuncup
Melahirkan cita di atas serpih-serpih airmata hujan pucat semalam

Bait Gandum

Bagai ladang engkau buah yg ku panen

Pada musim panas ku semai benih dari bibit huruf-huruf unggul

Terkemas dalam goni penuh bait gandum

Engkau adalah kamus perindu

Padamu terdapat terjemah

Dari tiap hembus nafas pecinta

Memenuhi udara jagad rasa

Engkau adalah musik

Setiap melodi yang kau mainkan

Irama dari petikan senar hati

Melantunkan bait-bait Laila Majnun

Minggu, 21 Maret 2010

Rindu Araya

berlomba nyala bersama kunang

memaksa batas kehampaan terawangi gelap purnama raya

lantunkan resah, gundah, pun doa tentang mahkota mata jiwa

di telaga bening ku bercermin

di antara bintang sepertiga malam

tersemat kidung mustajab rerayu rindu

meratap, mengharap


dimana senyap halimun lelap?

Anggun menjeda akar di pucuk ranting temaram bulan

meronta,

atasnya resah ada


resah remang di ujung sayap tarian kunang

sejajar perih

di indahnya gambaran awan

dan bunga

Arifa

Terluruh sudah tirai temaram di keheningan
Membawa rengkot jasad pada ruang rehat penyapu penat
Selunjur raga di atas dipan kayu letih
Melantunkan dendang lagu keletihan laku
Terawang lelang ruang menyeret pesona imaji malam
Hingga terpetik dalam sekejap petak
Engkau sunyi ku
Terurai dalam biduk rerindu arifa

Sabtu, 20 Februari 2010

Barter

Engkau
Yang sesilam detak jantung lalu
Mengamuk senyala kobar
Mana garangmu
Yang membakar nyali
Menjadi peluh
Tetes menetes
Pada seliat tubuh membasah??
Kini merahmu legam
Barter dengan kelambu abu-abu
Gaduh dentum atas bentang atap jagad
Bangunkan jiwa yang lena
Atas mimpi maya
Tersentak
Membirit ruh setengah jasad
Aduuhhh
Jemuranku belum diangkat!!!


26 Des 2009