Rabu, 26 Mei 2010

Padang Jiwa Selepas Perhelatan

pada pucuk-pucuk para memanggil angin semusim dari pengembaraan meresapi keberadaan alam

mencuba bertahan di antara putaran rasa tak goyang dari prahara

membawa jiwa sepasang melintasi badai gurun jiwa dan mengisi sela-sela jemari hati meniti pernikahan tanpa restu dalam keterasingan sunyi

telah membuka gerbang kesetiaan bagi sesunyi hati menggenggam rasa bersama atas cinta dari selendang bidadari mengikat pinggang jiwa sepasang

mengepak kembarai padang jiwa berkuncup mawar rekah

mencipta bait-bait mistis dalam penziarahan melodi hati memetik harpa menyenandungkan kecintaan

sekuncup mawar merampai menebar nada di lapak padang perhelatan atas denting dawai harpa yang bersenandung di pinangan sepasang jiwa memainkan simfoni maha daya cinta

setiap nada yang tercipta telah menterjemah rasa kecintaan di padang jiwa kesunyian diselubung oleh rimbun mawar setaman harum pinangan embun

maka selepas embun membuat jejak kuasa atas fajar dimana pertemuan dirangkai dalam sabda syair meminang bintang telah membuat kiasan serindu

dan serindu yang terjelaga membawa bintang pada bait-bait mistik di gerbang fajar pemaknaan terekah oleh kecintaan sepasang di taman serumpun mawar menyatukan jiwa

hingga terutuskan malaikat menebar rahmat di aula pengetahuan jingga timur selunjur barat

pemenuhan janji Dinda Puteri Pujan atas Kanda Syaair, telah rampung


Sepasang jiwa dalam keterasingan, Okt 2009

Syaair Bintan9_Sa9ita

ketika bulan pudar dalam kesenandungan alam mistik
dimana bintang menabur cinta pada kecupan pertama setelah seribu hari menunggu masa yang dinanti

rekah kembang jiwa tersiram air telaga kautsar dengan perantara hurun 'ain yang menyenandungkan bait syair merasuk sukma

maka serangkaian bintang membuat bait-bait sagita yang mengalun indah menciptakan tarian kedewasaan rasa yang merindu dalam imaji kekasih

dalam imaji kerinduan di pucuk malam
dimana bintang menari diiringi instrumen alam bersama lantunan sadjak yang dirangkai Batara Kamajaya meminang Puteri Pujan yang berhias yaqut dan marjan

suatu keabadian malam atas kesempurnaan alam
menciptakan bintang termaknai dalam coretan pelukisan jiwa-jiwa yang mencinta

pelukisan kerinduan di kanvas maya ciptakan romantika cinta yang kini bertahta megah di wilwatika bersama kidung cinta yang membuai kalbu merindumu

berpasanglah jiwa meminang ruh memasuki raga atas kekuatan firman yang terucap mendalami sukma atas romansa cinta Qais dan Laila

atas nama bintang merindu pada lantun syair nan merdu
sabda cinta menterjemah pusara kerahasiaan cinta menjadi pengantin jiwa

dan atas nama bintang sagitarius membuka pintu kesenandungan dalam jiwa yang menjadikan sepasang pengantin bulan bermadu di ranjang angsa bertilam emas
berpagut dalam hangat kecintaan dua insan dimabuk anggur secawan rindu



sepasang jiwa dalam keterasingan, 18 Juli 2009

Senin, 24 Mei 2010

Senandung Bintang

Senandung bintang
cakupan melodi hati
denting dawai harpa jiwa
melarakkan mahkota kembang sunyi
pada kecupan pertama angin musyafir
melelapkan lingkar merah semesta
hingga menggugur mahkota mawar hitam jagad
menyempurnakan aksara bintang
lingkar perak sendu di ranting mawar bergelayut
sedang dedaun sunyi berdansa dalam imaji metafisi

Minggu, 23 Mei 2010

Terajam Bayang

serupa daun cemara ku

tergores mencipta cacat

tetapi tiada longsor tambang permata retina ulah getarnya

meski nyeri sendi nadi terajam bayang

temaram legam dipandang

tetapi setaman bintang sunyi

bagai musim semi pengataman

Bintang Sunyi

kembali pada wujud bintang sunyi

merangkai lamfa putih di atas lapas jagad imaji

memahkotai aksara keheningan

menziarahi aula pengetahuan yang dipenuhi jejaring ilusi sunyi

Denting Kelana Permaisuri Lazuardy

mandam pada sudut ruang rangkum

menatap nampak mu di hadap petak kornea jambangan ruh

getar jiwa membahana nada

denting-denting setapak kelana

menghamparkan lapak perjamuan rasa

sebagai saksi penobatan jingga

sebagai mahkota sanjana

permaisuri lazuardy pengantin fajar

Sabtu, 22 Mei 2010

Gurat Tengah Malam

Urat kayu seakan mengelupas pada tembok pojok kamar
Keheningan Mei 2009
Bintang kembali muncul di kaki lembah
Malam pecah bekunya
Ceritamu belum bernama
Sendi bias matamu meluas biru
Bidadari mandi di telagamu
Bulan di sela ranting yg memperdalam hening
Diriku berpecah menghadap muara
Antara bintang dan langit
Antara bumi dan dedaunan
Sekalipun sekitar membunga
Badai tak pasti sampai sore
Pada jerit terakhir terbelah bumi
Dan darahmu,darahku mengembang di kelopak musim semi
Bintang berkalung jingga
Melengking ke utara menabur sepi
Rangkai rindu dari sejuta jingga persada
sedu yg ku rasa di pagi telah membuka cahaya
Angan-angan lari menampar kering
Ku harap kau memelukku kali ini
Bukan besok atau kemarin...!!!


"by : Satya Marcapada"

Rabu, 19 Mei 2010

Sunting Sunyi

Sekalian mandam pd rotasi otak mengitari syaraf2 tegang ku..
Menitik tumpu pd sendu lalu bertopang dagu...
Gaduh nian jiwa gema dinding sukma retak...
Pd setumpuk risau merimbun bisu hati...
Sebukit gagu merimba belantara jantung meraung detak...
Khaluad ku pd sendu melayu terusik...
Ku sunting sunyi pd gaduh merubuh pilar tegar...
Ku pinang senyap utk memikat pertapa dlm keheningan meraja...
Biar mandam menjelaga jagad asma...
Biar kidung sunyi melantun tak berirama bunyi...

Selasa, 18 Mei 2010

Cadar Musim

Ketika cadar musim tersibak di hadap rupa tungku beku

Selendang pelangi membalut sunyi

Sehangat badan ranting yang menyemat emas jagad

Kembali angin musyafir menapak mencipta jejak senyap lembah prahara jiwa

bersenandung buah kayu sanubari

memainkan desah nada musim semi

tertanai cawan serindu bintang memutik not-not sunyi di lembah angsana

Rabu, 12 Mei 2010

Kuncup Mawar

Telah berkuncup
Benih yang disemai di ladang jiwa
Airmata menghujan menambah kesuburan
Musim panen di taman mawar
Sekuncup-kuncup rekah
Harum
Menarik pencium
Pandang memandang takjub
Hanya mengagumi
Jangan satu pun ulur lentik memetik
Ranum
Belum masa memadu malam
Berjamu ranjang
Berserak taburan kelopak harum


Arifa, September 2009

Persembahan untuk Kesunyian

mengambang dedaun resah di ranting senyap pemikat jiwa-jiwa pecinta
terangkai jemari angin memagut rasa dalam desah terkecupi resah
memperdengarkan alunan mistik simfoni dari instrumen jiwa melahirkan keutuhan daya ruh pengembara jagad

Jejak-Jejak Sunyi

belantara ini merindang penuh terjelaga ilalang
pada tiap-tiap helainya memanggil asma angin musyafir
setengah daya sisa pengelana padang jiwa
bersimpuh di lapak hijau menenang rasa
ruh
sukma
pada pusaran kosmo
meniup senyap melalui kisi-kisi ruang rehat
setapak demi setapak
jejak-jejak sunyi purba dipaja
hingga lahir kedewasaan pemaknaan kehadiran
di antara kuncup-kuncup syariat jasad
membangun pilar-pilar bening
dari hening senyap bintang berkhaluad

Belum ku Petik Disesap Embun

Aku mengintaimu dari balik tilai kekaguman
Rupamu purnama turun membingkai

Matamu telaga mandi bidadari
Bibirmu tercicipi pay pisang berpoles madu
Engkau, yang sekali pandang langsung menikam
Dan sekarang
Aku terkapar di dipan lapuk yang berdendang renta
Dalam sekarat rindu mencinta juwita
Aku melihatmu sekali lagi
Tapi
Ahhh
Tertikam kembali
Bagai taman mawar berkuncup rekah
Belum ku petik disesap embun saat halimun menudung pandang
Kini hanya dapat menikmati rekam silam retina
Anggunmu dipersolekan fajar

Arifa (edit)

rumusan rusuk adam dari sepasang memadu malam di ranjang kecintaan
membangun mahligai persolekan padang jiwa serumpun
terpayungi tauhid pada kelahiran benih mawar berkuncup
membawa serampai pioni ketegaran hawa peradaban mesin
dimana terbingkai persinggahan raga oleh lingkup rentang 17 sayap ketaatan menyelubung lindung
mematah batang kealfaan manunggal raga
terbekali bintang dengan sinar tunggal terang kearifan

Melarak Sunyi

Memutik daya yang melambak di lapak bengkang kewarasan wujud

menyemat pada sela ranting mandam
melarakkan sunyi dikehadiran hawa pertapa

merangkai kenampakkan serupa daun cemara
segar dicumbu pedupaan metafisi

melahirkan serbuk khayali
meningkahi tangga imaji atas mistikus kehadiran jiwa kekasih

Selasa, 11 Mei 2010

Mawar Hitam (Malam)

rekah kuncup mawar hitam bermahkota permata tata surya
meleburkan tarian jingga melayar di jambangan samudera jagad
jejaring rasi-rasi mencipta ilusi atas imaji metafisi
dialegtika panca retina rasa, ruang dan waktu rerindu seiring daya akar kalbu
membatu serupa daun cemara ditatah sebuah nama
maka dalam sunyi atas imaji keharuman mawar hitam alam
meningkahi pemaknaan dari kepak sayap 17 malaikat
tak kuasa melepas rahim retina melahirkan riak anak murni terbasuhi bercak-bercak batin

Senggama Sunyi

dalam hening
menjejaki rimba kegelapan
hanya berpenerang gemintang
sayup
merasuk piringan radar melantang
lantunan
sabda-sabda cinta
menenang
bak mutiara
bertabur kilau di lisan
membawa ruh
mengembarai jagad kosmos
hanya ada aku dan sunyi
bersenggama
di ruang senyap yang memikat
mencipta birahi tingkat tinggi
pada setubuh batin ku dan Cinta ku
di atas tilam suci
yg tergelar sebagai lapak percintaan
disaksikan reranting hening
dedaun risau
berhakim malam
aku dan Nya bercinta
bersama lingkup sayap malaikat menabur rahmat

Terbunuh Aksara Prasasti Kaca

Ejaan dalam prasasti kaca itu
bagai sembilu
runcing menusuk hening
sekerat merah tua memucat nanah
ini hati ku
pucat mati dalam sunyi
aksaraku kerontang
cadar musim tersingkap kemarau gurun tempias jiwa
ini raga ku
lumpuh dalam sekejap mengeja tatah katanya
ini sukma jiwa pertapa
terbunuh gempita kecupan senja di padang ilalang menziarahi padang jiwa kecintaan renjana :)


06 Mei 2010

Senin, 03 Mei 2010

Pinangan Jiwa

berpijak di lapak savana
adalah taman perjamuan jiwa-jiwa
berpayung segumpal kapas jagad
ku gelar kanvas aksara padang jiwa
beralas hijau ilalang lajang
inilah masa
lepas sukma meningkahi jagad makna
menggubah semesta jiwa
di atas lembaran aula pengetahuan rasa
menarikan tarian syair perindu sunyi
kidung kinanti bertalu gamelan syahdu
merinai dawai lentik pena menjejaki kanvas padang jiwa
mencipta setapak jejak bait bintang
menggugurkan dinamika aksara padang jiwa serumpun
pinangan jiwa dipengembaraan sukma